PEMALANG – Dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional (HLN) ke-30 Tahun 2026, program Bincang Sehat LPPL Radio Swara Widuri mengetengahkan tema “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya”. Dialog yang juga disiarkan secara streaming di akun YouTube Radio Swara Widuri pada Rabu (17/6/2026) tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Kepala Puskesmas Klareyan, dr. Hendra Alfiyanto, dan Penanggung Jawab (PJ) Lansia Puskesmas Karangasem, Agus Rusiamsih.
Topik dialog ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada para lansia maupun orang-orang di sekitarnya tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat. Hal itu dapat dilakukan dengan cara rajin berolahraga, meminum suplemen kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi lansia.
Kepala Puskesmas Klareyan, dr. Hendra Alfiyanto, mengemukakan bahwa salah satu penyakit mematikan yang marak ditemukan pada lansia adalah hipertensi. Sebanyak 63,4% lansia mengidap hipertensi yang dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik, diare, serangan jantung, dan stroke. Hipertensi muncul pada lansia karena kondisi pembuluh darah yang semakin kaku dan kehilangan elastisitasnya.
Hal ini terjadi akibat pola hidup yang kurang terjaga, seperti konsumsi garam yang berlebih, obesitas, stres, merokok, serta adanya riwayat penyakit jantung dan diabetes. Kendati demikian, hipertensi dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat dan memeriksakan tekanan darah secara rutin setiap bulan.
“Perbanyak konsumsi buah dan sayuran sesuai menu isi piringku. Porsinya adalah setengah dari isi piring diisi sayur dan buah, dengan rincian sepertiga sayuran dan seperenam buah-buahan. Selain itu, lakukan aktivitas fisik secara teratur, jaga berat badan ideal, kelola stres, serta hindari rokok dan alkohol,” ujar dr. Hendra.
Ia melanjutkan, menjaga kesehatan dengan melakukan aktivitas fisik sangat penting dilakukan oleh lansia. “Menjaga kesehatan fisik atau olahraga tidak hanya penting bagi lansia, tetapi juga untuk usia produktif. Untuk lansia, olahraga idealnya dilakukan 150 hingga 350 menit per minggu. Contohnya adalah jalan kaki atau bersepeda santai. Olahraga selama 75 hingga 150 menit per minggu juga bisa dilakukan dengan mengikuti senam aerobik atau jogging,” terang dr. Hendra.
“Untuk dua sampai tiga kali seminggu, lansia perlu melakukan latihan beban demi melatih daya tahan otot supaya tubuh tetap bugar. Sementara untuk menjaga keseimbangan, bisa dilakukan dengan latihan berjalan lurus sebanyak tiga kali seminggu. Semua hal ini dilakukan untuk mencegah penurunan fungsi tubuh lansia. Akan tetapi, hal ini tentu perlu diiringi dengan konsistensi,” sambungnya.
Sementara itu, Agus Rusiamsih menjelaskan mengenai keberadaan Integrasi Layanan Primer (ILP) di puskesmas-puskesmas. “Kini setiap desa sudah memiliki Posyandu khusus lansia yang terintegrasi dengan ILP. Tujuannya adalah untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Dalam Posyandu lansia, terdapat pengecekan berat badan dan tinggi badan secara berkala, cek gula darah, serta tensi. Jika warga terdiagnosis memiliki tekanan darah tinggi, nantinya mereka bisa dirujuk menuju puskesmas terdekat,” ujar Agus Rusiamsih.
Agus Rusiamsih melanjutkan, penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh lansia adalah nyeri sendi. Ia menyatakan bahwa hal ini salah satunya bisa distimulasi secara ringan dengan gerakan berdiri lalu duduk kembali sebanyak lima kali. Bagi lansia yang mengalami nyeri sendi, mereka tidak disarankan untuk berjalan jauh, melainkan disarankan untuk melakukan olahraga renang atau setidaknya berendam air hangat. Akan tetapi, aktivitas hal ini tetap perlu disesuaikan kembali dengan kemampuan fisik masing-masing lansia.
