PEMALANG – Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 menghadirkan perpaduan nilai budaya dan agama melalui tema “Harmoni Budaya dalam Gema Maulid” di Desa Cibuyur, Kecamatan Warungpring, Kabupaten Pemalang. Kegiatan yang digelar dalam suasana bulan Maulud tersebut menjadi upaya masyarakat Desa Cibuyur dalam mengolaborasikan tradisi budaya lokal dengan nilai keagamaan agar dapat berjalan berdampingan. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Cibuyur Yoyok Kusnodo bersama tokoh masyarakat sekaligus budayawan Cibuyur Basuki dan Ketua Panitia Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 Syukron dalam program Dialog LPPL Radio Swara Widuri Pemalang, Kamis (20/8/2026).

Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 berawal dari upaya Desa Cibuyur untuk mengangkat kembali identitas masyarakat yang sejak dahulu dikenal melalui kerajinan berbahan bambu. Kepala Desa Cibuyur Yoyok Kusnodo menjelaskan, nama Slumpring terinspirasi dari mainan tradisional masyarakat yang menggunakan bahan bambu pada masa lalu.

“Sebelum bahan-bahan plastik datang ke Indonesia, kerajinan tersebut menjadi salah satu produk untuk pencaharian atau kehidupan masyarakat di Cibuyur. Kebetulan juga, di Cibuyur melimpah bahan bambu. Jadi, dengan keberadaan bahan bambu tersebut, saya dulu waktu era 80-an masih anak-anak, sering bermain menggunakan bahan dari bambu, yaitu slumpring,” ujar Yoyok.

Terkait tema “Harmoni Budaya dalam Gema Maulid”, Kepala Desa Cibuyur Yoyok menjelaskan bahwa masyarakat Cibuyur yang berada di tanah Jawa memiliki budaya yang kuat dan mayoritas beragama Islam, sehingga keduanya perlu dikolaborasikan agar dapat berjalan berdampingan. “Kebetulan di bulan Agustus ini adalah bulan Maulud. Kami terinspirasi bahwa warga masyarakat Cibuyur itu mayoritas muslim dan kami berdiri di tanah Jawa yang kental akan budayanya. Akhirnya kita memikirkan bagaimana mengolaborasikan antara budaya dan agama ini supaya bisa berdampingan,” ujar Yoyok.

Sementara itu, Ketua Panitia Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 Syukron menuturkan bahwa perpaduan budaya dan agama dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menyatukan berbagai unsur masyarakat. “Momentumnya pas saat ini kemudian bisa menjadi satu, digabung menjadi satu rangkaian event. Sehingga harapannya ini juga benar-benar menyatukan semua unsur lapisan masyarakat dari yang budaya, kemudian yang agama,” jelas Syukron.

Menambahkan hal tersebut, Budayawan Cibuyur Basuki menjelaskan bahwa masyarakat Desa Cibuyur memiliki keberagaman latar belakang, baik dari sisi budaya maupun keagamaan. Menurutnya, sebelumnya kegiatan Grebeg Maulid dan Kirab Slumpring masih berjalan secara terpisah, sehingga tahun ini keduanya digabungkan menjadi satu rangkaian kegiatan. “Pada dasarnya warga masyarakat di Desa Cibuyur itu walaupun berbeda-beda tetapi satu jua. Maka dari itu, untuk tahun ini digabung menjadi satu, disatukan antara budaya dengan agama,” jelas Basuki.

Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 akan berlangsung pada tanggal 28–30 Agustus 2026 di Desa Cibuyur, Kecamatan Warungpring, Kabupaten Pemalang. Acara tersebut menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi dengan mengangkat perpaduan budaya dan agama. Berbagai rangkaian telah disiapkan, mulai dari kegiatan Maulid, pertunjukan budaya, hingga kirab budaya sebagai puncak acara. Ketua Panitia Syukron menjelaskan bahwa dalam rangkaian tersebut juga akan dilaksanakan prosesi Tirta Wiwaha serta kirab gunungan tampah sebagai bagian dari budaya masyarakat Cibuyur.

Selain itu, Slumpring Fest 2026 juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam pelestarian budaya lokal. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Cibuyur berharap budaya lokal dapat terus dijaga sekaligus memperkuat nilai kebersamaan antarwarga. Syukron selaku Ketua Panitia Kirab Budaya Slumpring Fest 2026 mengajak masyarakat untuk terus mempertahankan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun agar dapat dikenal oleh generasi berikutnya. “Yang datang adalah warga masyarakat Indonesia yang mau mempertahankan budayanya, kemudian mengenalkan kepada generasi berikutnya,” tegas Syukron.