PEMALANG – Panti Pelayanan Sosial (PPS) Bojongbata resmi meluncurkan inovasi Siaga Satria (Sistem Kesiapsiagaan Panti Selamat Terlindungi Aman), Rabu (9/9/2026). Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat kesiapsiagaan dan perlindungan penerima manfaat, khususnya lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas, dalam menghadapi situasi darurat dan bencana.
Launching yang berlangsung di PPS Bojongbata tersebut sekaligus diikuti dengan simulasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada penerima manfaat panti melalui sistem penanganan kedaruratan yang lebih terarah, cepat, aman, dan inklusif.
Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Drs. Imam Maskur, M.Si., jajaran Pemerintah Kabupaten Pemalang, BPBD, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran, BASARNAS, PMI, TAGANA, Baznas, BPJS Kesehatan, dunia usaha, serta unsur terkait lainnya. Peserta kegiatan terdiri atas pegawai PPS Bojongbata, penerima manfaat, dan 29 praktikan.
Siaga Satria dikembangkan dengan mempertimbangkan tingginya potensi bencana di wilayah Kabupaten Pemalang. Dalam sambutan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah disebutkan bahwa berdasarkan data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025, Kabupaten Pemalang memiliki nilai indeks risiko bencana sebesar 105,46. Pada awal 2026 juga tercatat 189 kejadian bencana alam yang didominasi cuaca ekstrem, tanah longsor, dan banjir bandang akibat curah hujan tinggi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus karena penghuni panti terdiri dari kelompok rentan yang tidak selalu mampu melakukan penyelamatan diri secara mandiri ketika bencana terjadi. Keterbatasan fisik, sensorik, kognitif, dan mobilitas membuat lansia serta penyandang disabilitas membutuhkan pola kesiapsiagaan yang dirancang sesuai kebutuhan mereka.
Melalui Siaga Satria, PPS Bojongbata menargetkan terbangunnya kemandirian dan respons cepat untuk meminimalkan risiko korban jiwa saat keadaan darurat. Program ini juga diarahkan untuk melatih penerima manfaat dan pegawai panti agar mampu melakukan evakuasi secara aman, cepat, dan terarah, sekaligus membangun komitmen serta sinergi dalam kesiapsiagaan bencana.
Implementasi Siaga Satria diawali dengan pemetaan risiko, meliputi kondisi fisik, sensorik, dan kognitif lansia serta penyandang disabilitas. Pemetaan juga mencakup identifikasi kerentanan struktur bangunan, jalur evakuasi, ketersediaan bidang miring atau ramp, pegangan tangan (handrail), hingga penentuan titik kumpul yang aman.
Selain pemetaan, dilakukan pula peningkatan kapasitas melalui pelatihan kesiapsiagaan bencana dengan melibatkan BASARNAS, BPBD, Dinas Sosial, PMI, dan TAGANA Kabupaten Pemalang. Program tersebut dilengkapi dengan penyusunan pedoman dan standar operasional prosedur (SOP) kesiapsiagaan bencana bagi kelompok rentan.
Dalam peluncuran tersebut, kesiapsiagaan juga diperkuat melalui penyediaan sejumlah peralatan penunjang, antara lain tandu, kursi roda, alat pemadam api ringan (APAR), helm keselamatan, senter, genset, dan tenda. Peralatan tersebut didukung oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BPJS Kesehatan dan PT BPR BKK Taman.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dalam sambutannya menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan investasi penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Bagi panti yang memberikan pelayanan kepada lansia dan penyandang disabilitas, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sarana, tetapi juga kesiapan pengelola, tata kelola, jalur evakuasi, komunikasi darurat, serta latihan yang dilakukan secara berkala.
Simulasi yang menjadi bagian dari peluncuran Siaga Satria menjadi sarana untuk menguji kesiapan tersebut secara langsung. Pembagian tugas evakuasi, penguasaan teknik evakuasi khusus, serta koordinasi internal dengan pihak medis dan tim penyelamat menjadi bagian penting dalam membangun respons kedaruratan di lingkungan panti.
Dengan diluncurkannya Siaga Satria, PPS Bojongbata diharapkan memiliki sistem kesiapsiagaan yang lebih terstruktur dan ramah bagi kelompok rentan. Inovasi tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mewujudkan pelayanan sosial yang tidak hanya responsif dalam kondisi normal, tetapi juga mampu memberikan perlindungan yang cepat, inklusif, dan bermartabat ketika menghadapi bencana.

